Oleh Rus’an
Tulisan ini membahas tentang pergeseran kecerdasan IQ, EQ menuju ke SQ. IQ atau disebut Intelligence quotient adalah suatu bentuk kecerdasan yang bersandarkan nalar, rasio intelektual, yaitu cara berpikir secara linier yang meliputi kemampuan berhitung, menganalisa sampai mengevaluasi. Sementara EQ atau emotional Quotient bersandarkan emosional, yaitu kecerdasan yang mampu mengendalikan emosi dan memberi empati sehingga seseorang mampu bersikap wajar. Maka hakikat sejati SQ atau spiritual quotient disandarkan pada kecerdasan jiwa, kecerdasan ini melahirkan kemampuan untuk menemukan makna hidup, serta memperhalus budi pekerti, SQ sebagai puncak kecerdasan menurut Danah Zohar, ini berarti bahwa makna kehidupan merupakan tujuan hidup yang pertama dan utama bagi manusia. Hanya orang-orang cerdas secara spiritual mampu memberi makna dalam hidupnya.
- KECERDASAN IQ (Intelligence Quotient)
Sejak Wilhelm Stern (Pasiak: 2005: 120) Psikologi Jerman yang banyak mengacu pada teori intelegensi Alfred Binnel dan Theodore Simon yang membuat IQ (Intelligence Quotient) sebagai ukuran kecerdasan, sejak itu pula kemampuam matematis “merajai” dunia. Jarang, penghargaan yang diberikan pada penulis puisi, Novelis, olahragawan atau pelukis, sebagai orang-orang cerdas, ukuran kecerdasan dan kunci kesuksesan hanyalah yang betumpu pada nilai-nilia IQ (nilai rapor, IP). Itulah sebabnya IQ oleh Paul Eggen (1997) dianggap sebagai takdir, bahwa baik buruk nasib seseorang kelak ditentukan oleh IQ-nya yang tinggi, maka baik pula nasib yang bersangkutan, demikian pula jika IQ nya rendah maka sudah menjadi takdir yang bersangkutan akan mengalami kehidupan sebagaimana IQ-nya.
Apakah IQ, kunci kecerdasan masa depan? dan, betulkah IQ merupakan takdir, dan satu-satunya parameter kesuksesan hidup? Inilah yang mengundang tanda tanya Sukidi dalam bukunya New Age Wisata Spiritual Lintas Agama (2001: 133). Tidak! Inilah jawaban tegas Daniel Goleman (1999). Fakta bicara lain dan bahkan berbalik total. Betapa banyaknya kenyataan kita jumpai di dunia ini yang menunjukkan hal yang sebaliknya. Seseorang yang memiliki IQ yangh baik justru gagal dalam kehidupannya, sebaliknya banyak sekali orang yang sebenarnya hanya memiliki IQ biasa-biasa saja malah sukses dalam kehidupannya. Kenyataan tersebut menunjukkan bahwa tertdapat factor turut berpengaruh atau menentukan apakah seseorang nanti akan sukses atau tidak, dan factor itulah oleh Daniel Goleman disebut dengan Istilah “Kecerdasan Emosional” (Emotional Intelligence). (Bersambung…)
No responses yet